Memaknai Qurban di Jaman Modern


Pagi ini terasa istimewa, pagi yang cerah di iringi suara kambing yang mengembek di depan kantor. ( untuk sesaat jadi rindu suasana desa yang damai dan jauh dari kesibukan kota jakarta embeekkkk" ^_^ . )
Bagi mayoritas masyarakat yang hidup di jakarta, mungkin hari ini, besok, maupun lusa tidak ada bedanya dikarenakan kesibukannya akan pekerjaan di tempat masing-masing. Tapi bagi Umat Islam, pada hari ini, 23 September 2015, adalah hari yang sukup spesial, karena besok yakni tgl 24 September 2015 merupakan salah satu hari penting dalam tradisi Islam, yaitu Idul Adha. Yang menandai bahwa ritual ibadah Haji, salah satu rukun Islam, telah selesai dilaksanakan. Yang memaknai penyerahan diri secara total manusia kepada Sang Pencipta. Haji dimaknai sebagai ritual untuk mengenang perjuangan dan penghambaan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail kepada Allah yang Maha Besar. Umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah Haji, memaknai hari pengorbanan dan penghambaan ini dengan perayaan simbolik puasa arafah dan menyembelih hewan seperti Sapi, Kambing, ataupun Unta sebagai wujud ketaatan terhadap perintah Allah Swt.

Saat melihat beberapa ekor kambing yang diikat di depan kantor, sejujurnya menjadi sebuah pemikiran bagi diri saya, berfikir tentang makna qurban, kenapa harus berqurban..,? apa manfaat qurban bagi orang yang berqurban..? berapa lama harus berqurban...? apakah qurban hanya sebuah rutinitas tahunan...? bahkan ketika saya bertanya bahwa apa yang diingat dari qurban adalah daging dan sate, sama halnya dengan lebaran yang diingat adalah mudik/pulang kampung, lalu apa makna dari semua yng dilakukan ini...? apa hanya sebuah rutinitas saja yang harus kita sesuaikan dengan jaman modern ini...?

Jika terus berfikir tentang bayaknya pertanyaan benar-benar membuat pusing. hehehhe. Yaah... jika seseorang membuat pertanyaan setidaknya ia juga sudah mempersiapkan jawaban menurut dia sendiri. Dan saya mencoba mengartikan dengan bahasa dan pemahaman saya tentang makna Qurban, bahwa hari dimana seseorang melakukan pengorbanan ini akan menjadi hari reformasi besar dalam masyarakat Muslim jika dimaknai secara simbolis dan bukan hanya terpaku pada rutinitas perayaan Idul Adha dan penyembelihan hewan qurban. Reformasi besar justru dapat terjadi dalam diri manusia itu sendiri ketika belenggu kebendaan (materialist constraints) dalam dirinya dimerdekakan dengan sprit tauhid yang kokoh seperti dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as.

Nabi Ibrahim melepaskan belenggu kebendaan dengan berani dan haqqul yaqin menyembelih Nabi Ismail, seorang anak yang disayanginya, atas perintah Allah SWT. Nabi Ismail melepaskan belenggu “ke-akuan” dengan meng-ikhlas-kan ayahnya untuk menyambut keridoan Allah SWT. Makna simbolik dua kejadian tersebut secara implisit memerintahkan manusia untuk patuh dan percaya tanpa ada keraguan sedikitpun terhadap Sang Pencipta.

“Tanpa Keraguan” adalah syarat kita menjadi seorang hamba yang baik. Saya jadi teringat ayat kedua dan ketiga Surat Al-Baqoroh yang jika diterjemahkan secara literal salah satu bagiannya berarti bahwa ciri-ciri orang yang bertaqwa itu adalah mereka yang pertama-tama beriman atau percaya kepada sesuatu yang Ghaib,unseen, dan invisible.  Dalam tradisi Yunani, ghaib bisa diklasifikasikan sebagai alam Metafisik kebalikan dari alam logik. metafisika dan logika saling sinergi dan harmonis sebagai sumber pengetahuan masyarakat, tidak ada satupun yang superior satu sama lain. Logika diperlukan oleh manusia supaya hidup secara efektif dan efisien di dunia, seperti membuat bangunan, mengorganize masyarakat, dan menciptakan teknologi untuk kemaslahatan manusia, sedangkan metafisika dulu diperlukan untuk membuat hidup kreatif dengan jalannya sendiri. Metafisika diperlukan untuk memaknai sesuatu yang tidak dijangkau oleh logika, didisain untuk membantu manusia negosiasi dengan wilayah non-fisik yang sangat sulit diakses logika tetapi sangat mempengaruhi pemikiran dan prilaku kita. Meyakini adanya Tuhan adalah meyakini sesuatu yang Ghaib. Yang tidak bisa dilihat oleh mata tetapi bisa dirasakan oleh hati. Seperti angin yang tidak terlihat, visible dan unseen, tetapi bisa dirasakan ketika menyentuh wajah ataupun ketika bertiup diantara dahan dan ranting pepohonan.

Perintah berqurban menurut saya bisa bermakna menghilangkan sifat kebendaan, keduniawian, sifat fisik yang terdapat dalam jiwa kita dan menggantinya dengan sifat ruhani yang penuh dengan kepasrahan total kepada Allah Swt. Suatu kali saya bersama saudara saya berdiskusi tentang kandungan surat Al-Kafirun dalam Al-Qur’an tentang sifat penghambaan Muslim yang tidak akan mengikuti sifat penghambaan orang Kafir. Kalau diterjemahkan secara kontekstual, mungkin ayat tersebut tidak “melulu” diartikan penghambaan orang Kafir terhadap patung-patung dan berhala seperti latta dan uzza, tetapi sesuatu yang telah dijadikan oleh manusia sebagai Tuhannya. Yang mengalahkan kepasrahan total kepada-Nya. Materi bisa menjelma menjadi Tuhan dalam alam metafisik manusia. Berapa banyak orang yang mengorbankan sanak-saudaranya akibat materi pada zaman modern ini, bahkan manusia yang saling bunuh diakibatkan oleh perebutan harta dan materi. Yang sekali lagi bertentangan dengan perintah Allah SWT agar manusia sebagai Khalifatullah fil Ardhmemakmurkan bumi, dan mendamaikan sesama manusia. Orang-orang yang rajin melaksanakan ritual ibadahmahdah tetapi orientasinya adalah dunia materi, seperti kekayaan, status sosial, karier pekerjaan, maupun karier politik mungkin masuk dalam kategori ini. Bukankah segala amalan kita bergantung pada niatnya, jika niat shalat kita mendapatkan uang dan status sosial yang tinggi, maka itulah yang akan didapatkan bukanultimate goal yaitu seeking pleasure of God (ibtigoo’a mardhatillah).

Sekali lagi, ternyata berqurban itu seperti horizon. Mempunyai dimensi yang berbeda-beda tetapi intinya adalah kepasrahan total kepada Allah swt, Sang Pencipta. Jika kita sudah mampu melaksanakan itu, maka sebutan "Muslim" sepatutnya layak disematkan pada diri kita, yaitu orang yang pasrah terhadap kehendak dan perintah-Nya, serta menghilangkan segala bentuk pengabdian kepada selain-Nya. Allohu a’lam. ^_^

* sumber : Arcadian cct, Carlingford – Sydney, 4 October 2014
 “the day the sacrifice of Hazarat Ismail and Ibrahim will be seen in symbolic rather than literal terms, will be a day of great reform in Muslim societies”.