Koreksi Diri


Kejadian yang sepele mungkin tapi entah kenapa membuat hati menjadi sesak…
Berfikir bahwa kita hidup di dunia kapitalis, semua hal harus bernilai uang. Ketika kita mengeluarkan uang, kita pun berharap mendapatkan ganti produk terbaik, pelayanan terbaik, hasil terbaik... Jika enggak dapat yang terbaik, maka kita dengan mudahnya kita komplain, mencaci maki penjual, mencela pelayanan, kalo perlu bikin heboh di media sosial..
Ironis sekali Kalo kita beli produk di Supermarket, maka kita dengan mudahnya setuju dengan harga yang ditawarkan.kita gak kepikiran untuk tawar menawar,  entah karena bikin malu..atau takut dibilang  orang susah….?
Pokoknya beli produk ini itu.. Bayarrr!! Gak punya duit cash? Kartu kredit dimainkan! Urusan nyicil belakangan.. Urusan dosa riba au ah gelap gak urusan!
Semua diskonan kita kejar, semua tawaran cicilan kita iyakan, merasa punya uang padahal kartu utangan..
Kita terjerembab dalam jebakan kapitalis, setiap ribuan uang yang dikeluarkan adalah poin-poin yang dikumpulkan yang besok akan kita tuker dengan panci dan termos bonus pembelian..
Kita adalah raja komplain! Sekali kembalian kurang di minimarket 5 ribu saja kita akan langsung memfoto struknya, lalu upload di semua sosial media, tambahin dengan caci maki agar heboh disana-sini, sukur-sukuuur besok dapat kompensasi.. Semua harus kembali dalam hitungan uang.. Sistem Kapitalis yang melenakan dan gak sadar menyempitkan hati kita ketika memandang nilai dan harga..
Cobalah sekarang, lupakan semua transaksi kapitalis yang memuakkan! Transaksi yang harus menguntungkan, mulailah menegakkan kepala, menengok ke kiri dan kanan, melepaskan sejauh mata memandang...barangkali menemukan seseorang yang menunggu kita, bukan untuk mencari belas kasihan kita, tapi untuk menjual beberapa barang yng hasilnya untuk memnuhi kebutuhannya.
Hari ini hari minggu dengan langit yang cerah, tidak ada yang special untuk dilakukan, hanya duduk didepan komputer sambil mengerjakan beberapa tugas yang harus diselesaikan, sesekali melihat keluar ruangan sedikit kendaraan yang berlalu lalang, mungkin karena ini hari minggu. J
Tidak berapa lama kulihat sebuah becak penuh dengan barang barang, ada sapu lidi, ijuk, ember, dan masih banyak lagi barang di becaknya. Sampai ada beberapa barang yang digantung dipinggiran becak. Sejenak saya berfikir wow… banyak sekali barang barangnya  mungkin sangat berat untuk dibawa.
Karena pegal duduk didepan computer terus akhirnya saya keluar dan iseng memanggil tukang jualan tadik.. “Pak…”  hanya satu kata saya ucapkan, tapi dengan otomatis becak yang sedang jalan langsung berhenti. ( saya yakin itu tidak pakai rem cakram… J ) . karena udah dipanggil sayapun menghampirinya, meskipun tidak ada barang yang ingin dibeli.  Cukup terkejut ketika saya melihat wajah lusuh yang mengayuh becak itu, sebut saja “Mbah Saepul..”, usianya sudah cukup tua mungkin  80 tahun masih mengayuh becak tua dengan dagangan sapu ijuk, sapu lidi dll. Kulitnya kotor menghitam, bajunya lusuh penuh lipatan. Sayapun melihat-lihat sapu yang ada di becak, “mbah sapunya bagus dan rapih, sama kaya nama mbah, “Mbah Sae..” sambil ketawa kecil. Dan diapun menjawab dengan tawanya.. “ ia ini saya buat sendiri, kalo barang yang lainnya saya ngutang dulu di took perabotan.”
Coba tebak berapa harga satu buah sapunya?
15 ribu!!  ( Salaaah...),  20 ribu!! ( Salaah...  ), 30 ribu!! ( Salaaaaah... aah! )
Hei kawan, satu buah sapunya dijual 6.000 saja, dijajakan dengan becak dari pondok gede, dia mengayuh becak sampai ke pusat kota Jakarta, bahkan bercerita pernah samapi ke tambun untuk menjualnya ( saya tidak bias memperkirakan berapa km yang ditempuh dengan becak, tapi saya yakin bahwa itu cukup jauh bahkan dengan motor sekalipun.) .ia bercerita, jika semua sapu itu laku, dia akan mendapatkan uang 90.000, dan itu baru harga jual belum dikurang modal. Jika satu sapu dia mendapat untung 1000, maka dia mendapatkan 15.000 sehari, itupun dengan catatan semua sapunya laku hari itu..
Lihatlah sekelilingmu, ada buanyaaaak sekali mbah Saepul yang menjelma dengan banyak rupa..
Datangi mereka wahai kawanku, tundukkan badanmu, rendahkan hatimu..
Bertransaksilah dengan mereka langsung dibawah langit, meski tanpa AC seperti di supermarket kita bisa cari tempat yang teduh dibawah pohon dan saya jamin itu lebih menyenangkan, karena dekat tempat bekerja sayapun memberinya sebotol air minum. Dan coba tebak apa yang saya dapatkan..? yups.. rentetan do’a, ucapan syukur, dan tawa iklhas yang penuh gembira.
Lupakan kualitas produk..
Lupakan soal cicilan dan harga promosi..
Lupakan soal layanan purna jual..
Bayarlah cash! Langsung dari dompetmu..
Ambilah satu-dua dagangannya, bayarlah 10-20-30 kali lipat dari harganya..
Rasakan dahsyatnya ketika wajah tua itu memandangmu dengan mulut gemetar, bulir air mata yang tiba-tiba mengembang, lalu doa-doa yang terucap ditumpahkan untuk dirimu..

Jangan salah, saya bukanlah orang melankolis,tetapi entah kenapa moment itu membuat hati bergetar oleh rasa bahagia yang aneh dan belum pernah ada sebelumnya..dengan hati yang puassss tak tertandingi... bahkan mengalahkan rasa puas usai disapa kasir cantik di supermarket yang baunya wangi.. ( sungguh tidak ada duanya..)