Salah memilih Panutan, Salah memilih Informasi


Salah memilih Panutan, Salah memilih Informasi

Pagi-pagi gini banyak sekali anak-anak yang mondar-mandir sampai kadang-kadang pusing liatnya. Hahahha dan sebenrnya sih hamper tiap hari. “Sabar…” yah itulah kata yang sering di gumamkan.  Tapi ini bukan mau bahas tentang  kesabaran. Saya mengutip dari pembicaraan setiap anak-anak, remaja bahkan sampai orang dewasa, hampir setiap bertemu mereka membicarakan tentang sinetron, penyanyi, dan pemain sepakbola sampai-sampai ia tahu betul bagaimana sejarah dan kehidupan si actor tersebut.
 itu ketika ketemu anak-anak pelajar yang sedang bahas tentang sepak bola, saya menyela pembicaraan mereka dan bertanya “ada yang tahu siapa Munir..? atau Widji Thukul..?” dilain kesempatan dan orang sayapun bertanya ke anak-anak “ Ada yang tahu tengku umar…?”  Tp super sekali jawaban anak ini saat ia menjawab bahwa beliau adalah sahabat Nabi.(mungkin maksudnya umar bin khotob)(^_^)  menurut saya sabar itu ketemu ABG di Jakarta yg gak tahu siapa Tengku Umar..heuheu tapi ia lebih mengenal siapa NOAH atau CR7”. Kadang saya senyum-senyum sendiri saat menulis artikel ini mengingat dengan pernyataan itu. Melihat banyak generasi muda kita yang lebih banyak mengenal artis artis lengkap dengan kebiasaan, hobi dan lainnya daripada tokoh tokoh pejuang yang sebenarnya sudah mengorbankan segalanya hingga kita bisa hidup seperti sekarang ini.
Kondisi ini juga banyak terlihat di lingkungan pelajar kita. Sebagai kelompok masyarakat yang dianggap sebagai agen perubahan, golongan intelek, masyarakat yang beruntung dan predikat luar biasa lainnya. Namun kalo kita perhatikan bagaimana wawasan , pengetahuan dan ketertarikan terhadap informasi cukup mengkhawatirkan. Pernah dilakukan survey kecil kecilan bagaimana wawasan dari para pelajar dan remaja  yang kebetulan bertemu saat sedang bekerja (karena kerjaan saya berhubungan sama masyarakat/pelanggan… ^_^ ) dan  melalui beberapa forum online, dan sebenarnya saya juga banyak melihat status yg masuk lewat FB \yang saya simpulkan sendiri. Beberapa hasil secara kasar bisa digambarkan sebagai berikut:
1.      Banyak status facebook yang lebih cenderung mengomentari atau mengungkapkan hal hal yang berkaitan dengan Artis dan Sepakbola., jauh di atas komentar dan status tentang tokoh tokoh di bidang lain. Kesimpulan awal adalah masalah ketertarikan di dunia sosial media yang cenderung untuk hal hal yang ringan dan hiburan. Kesimpulan lain adalah karena memang wawasan dan informasi yang dikuasai adalah di lingkungan itu. Banyak yang mengomentari Li Min Ho atau Lionel Messi daripada Eli Harari .(Jangan jangan pada nggak tahu siapa itu Eli Harari, meskipun berkat inovasi dari beliau kita banyak dapat kemudahan  :) )
2.     Dari pertemanan , kesukaan Group atau Halaman (fanpage) bisa dilihat juga bagaimana ketertarikan member dari FB. Kesimpulannya sama dengan poin satu di atas, masalah ketertarikan dan wawasan.
3.     Jika diamati follower dari Twitter, bisa juga dilihat siapa sih akun yang followernya banyak. Kesimpulannya sama dengan poin satu dan dua di atas.
Tiga contoh di atas baru sebagian kecil dan masih dalam analisis kasar. Perlu kajian dan survey lebih mendalam lagi. Namun secara garis besar pun bisa dilihat seperti itu. Intinya adalah Bagaimana kita memilih sumber informasi di dunia yang semakin banyak menyediakan berbagai sumber dan alternatif cara mendapatkannya.
Pilihan informasi yang dipilih sedikit banyak akan mempengaruhi wawasan dan pengetahuannya. Selanjutnya ekspresi dari dirinya sangat terpengaruh dengan kandungan wawasan yang dimilikinya. Ekspresi seseorang saat ini semakin mudah dilihat di Status Sosial Media yang dipergunakannya. Karakteristik Sosial Media sudah sedemikan merasuk   ke dalam penggunanya. Yang asalnya pemalu dan pendiam , bisa lebih Speak Out melalui sosial media. Yang cerewet dan narsis akan semakin berkembang. Dari ekspresi inilah bisa kita lihat siapa dan bagaimana orang itu (Meskipun perlu kajian ilmiah lebih mendalam lagi)
Kembali ke inspirasi awal tadi, perlukah kita sedih dengan melihat kondisi para pelajar kita, demikian juga perlukah kita khawatir dengan status,komentar dari teman  kita di Sosial Media? Ini menarik untuk dibicarakan dan tentunya tidak akan cukup dalam tulisan singkat dan sederhana ini.
Ketertarikan orang akan artis, pemain bola tidak lah salah, itu adalah bagian dari hiburan, dan bagian dari kebutuhan hidupnya. Yang perlu dicermati adalah bagaimana informasi yang diterima dapat mengurangi atau mempengaruhi karakteristik dari seseorang tersebut.  Inti dari permasalahannya adalah bahwa ketertarikan informasi hiburan akan mengurangi informasi lain yang sebenarnya sangat diperlukan. Artinya bahwa banyak pelajar kita yang tidak memiliki keberimbangan informasi. Dan akhirnya bisa mempengaruhi dalam pembentukan karakternya. (wah jadi berat bahasanya).
Beberapa dampak negatif dari tidak imbangnya informasi adalah
1.      Kepekaan Sosial yang berkurang, banyak yang menutup mata terhadap keberhasilan seseorang karena berhasil melakukan inovasi teknologi, gebrakan pemberdayaan masyarakat, aktifis kegiatan sosial. Banyak yg menutup mata karena konsentrasi eksplorasi informasi lebih ke Artis, Olah raga dan lainnya.
2.     Rasa hormat dan terima kasih hanya diberikan ke sisi orang2 yang telah berhasil memberikan hiburan dan kegembiraan secara langsung. Orang tidak hormat kepada Eli Harani karena memang tidak ada informasinya, yah mungkin sebagai mahasiswa apalagi jurusan Informatika  tidak banyak yang mengenal Donny BU karena lebih sering konsumsi informasi NOAH dibandingkan ICTWatch.
3.     Memilih Panutan yang salah, bisa dilihat banyak pelajar kita yang lebih suka mengikuti cara cara artis dan tujuan artis dalam mencapai sukses. Sangat sedikit yang mengikuti bagaimana perjuangan Steve Jobs membangun Apple atau bagaimana perjuangan CT membangun Usahanya. (Jangan jangan nggak tahu juga siapa itu Steve Jobs dan CT).  Tidak ada yang salah dengan Artis atau pemain Bola , mereka juga berjuang dalam mencapai suksesnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah apa yang harus kita contoh dan mana yang harus kita buang.
Tentunya sangatlah sedih jika banyak pelajar kita yang tidak mengenal Munir, Wiji Tukul, KONTRAS, Kasus Semanggi dan lainnya. Sedih juga kalau mereka tidak mengenal Kartosuwiryo, Buya Hamka, AR Fakhrudin. Dan salah satu indikator kesedihan itu adalah seberapa besar ketertarikan mereka terhadap film  Habibie-Ainun atau Sang Pencerah, dibandingkan dengan film 7 manusia harimau...?
Mari kita renungkan bersama di era Informasi saat ini….