Harapanku untuk Pelajar






Tidak terasa sudah cukup lama absen membuat artikel, kiki emotikon . awal tahun yang cukup padat, dan akhir-akhir ini sering melihat pelajar yang lagi sibuk melakukan ujian. Yaah… ini sangat nostalgia kalo melihat mereka ( meskipun ada pelajar yang umurnya lebih tua dari saya.. ) . Saat melihat mereka ( pelajar PKBM Sahabat Insani YDS ) yang sedang melaksanakn ujian, disamping rasa nostalgia juga memunculkan harapan yang besar.
Pendidkan adalah sebuah proses pencarian ilmu dan sikap. Banyak lembaga atau institusi yang mengembangkan dan melaksanakan pendidikan, seperti halnya Yayasan Dulur Salembur dengan PKBM Sahabat Insani dan TPQ Al-Muthi nya. Dari berbagai jenjang, berbagai bidang dan tentunya berbagai kualitas.
Salah satu ujung atas pendidikan adalah bagaimana menghasilkan seorang pelajar yang berkualitas mau melanjutkan kejenjang lebih tinggi seperti sarjana atau lebih tinggi lagi. Kondisi saat ini sudah jutaan pelajar dan sekian juta sarjana lahir di berbagai institusi pendidikan di Indonesia. Namun dari sekian banyak tersebut perlu kiranya dilihat, seberapa banyak yang layak untuk mendapatkan gelar pelajar yang disebut harapan bangsa. Banyak permasalahan yang muncul , mulai kualifikasi dan kompetensi yang mengkhawatirkan, tidak sesuianya nilai di transkrip dengan kemampuan di lapangan dan kasus banyak lainnya.
Dalam tulisan ini saya hanya mendefinisikan dan menyesuaikan apa yang dikatakan oleh Ernest Boyer seseorang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Beliau menyatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses menghasilkan sesosok scholarship. Ada 4 dimensi scholarship yaitu:
1. Scholarship of Discovery,
2. Scholarship of Integration,
3. Scholarship of Application ,
4. Scholarship of Teaching.
Keempat dimensi tersebut harus dipenuhi oleh seorang sarjana atau yang melewati sebuah pendidikan.
Seorang pelajar apalagi seorang sarjana haruslah memiliki kemampuan Scholarship of Discovery. Sebuah kemampuan untuk melakukan pembaruan dan penemuan hal baru. Perkembangan keilmuan, apalagi ilmu teknik, sangatlah luar biasa. Dalam hitungan hari bahkan jam banyak muncul temuan atau produk baru. Bahkan ada sebuah pernyataan dari seorang pengamat keilmuan, Bahwa perkembangan keilmuan (knowledge) akan berlipat ganda dalam hitungan 72 hari kedepan. Dengan kondisi ini tentunya seorang pelajar setelah lulus tentunya akan menemukan ilmu yang jauh berubah dari saat dia masuk di bangku sekolah.
Inilah tuntutan seorang pelajar, dia harus siap untuk menghadapi hal-hal yang baru dan tentunya dengan memberikan solusi-solusi baru. Tidaklah cukup hanya mengandalkan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh pengajar selama dia sekolah. Harus melakukan sebuah belajar yang terus menerus.
Kebutuhan kedua adalah Scholarship of Integration. Seorang pelajar harus mampu melakukan integrasi atau penggabungan ilmu-ilmu yang dipelajari saat sekolah. Pelajar harus mampu menggabungkan ilmu di bidangnya dengan ilmu-ilmu akhlak yang dipelajari di sekolah seperti Pancasila, Agama dan lainnya. Pelajar harus mampu merumuskan kemampuan apa yang sebenarnya dikuasainya dengan melakukan penggabungan dari ilmu yang didapat. Seorang Pelajar PKBM Sahabat Insani harus mampu menjelaskan bahwa dia bisa melakukan ini dan itu.
Beriktunya, seorang sarjana hari memiliki Scholarship of Application. Harus memiliki kemampuan untuk menghasilkan sebuah karya dengan mengandalkan pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan di dalam bangku sekolah. Hasil karya tentunya sesuai dengan bidang keilmuan yang didalami. Hasil karya adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan , minimal oleh sendiri dan akan lebih baik lagi jika berhasil dimanfaatkan oleh banyak orang.
Kemampuan keempat adalah Scholarship of Teaching. Seorang pelajar harus memiliki kemampuan untuk menyampaikan atau memindahkan pengetahuan yang dimilikinya ke orang lain. Teknik dan metodanya tentunya sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing. Intinya adalah banyak orang yang bisa menjadi lebih pandai karena apa yang dilakukan oleh kita.
Itulah empat hal yang perlu untuk kita renungkan. Jika kita sudah menjadi seorang yang telah lulus belajar, perlu kiranya kita lakukan refleksi diri, sejauh mana kita bisa menerapkan empat dimensi di atas sesuai dengan keilmuan kita. Apa yang perlu kita lakukan untuk mewujudkan 4 kewajiban tersebut. Jika kita sedang dalam proses menuju sarjana, sangatlah bijak untuk senantiasa melakukan evaluasi terhadap langkah-langkah yang sedang kita lakukan. Akankah proses belajar kita mampu membentuk kita memiliki 4 dimensi di atas.
Pelajar PKBM Sahabat Insani adalah sebagian kecil masyarakat Indonesia yang sangatlah beruntung. Dari sekian juta masyarakat Indonesia yang tidak mengenyam pendidikan setiap tahunnya, tidaklah sampai 40% bisa menikmati bangku kuliah. Demikian pula dari sekian ratus juta penduduk indonesia tidaklah banyak yang mampu mencapai akhir SMK/SMA sederajat. Karunia yang begitu besar berupa kesempatan untuk belajar tentunya tidaklah pantas untuk disiasiakan hanya dengan mengejar selembar ijazah kelulusan. Rasanya sangatlah tidak pantas kita bangga akan gelar kita tapi kita sendiri tidak bisa mengikuti perkembangan ilmu yang kita pelajari, atau tidak bisa memahami sebenarnya kita harus mampu apa, atau tidak bisa menghasilkan karya sesuai ilmu kita atau tidak bisa menyampaikan sebagian besar ilmu yang kita dapatkan kepada orang lain. Dari semua itu perlu kiranya kita perhatikan ajaran Nabi kita bahwa Seutama-utamanya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lain.
Semoga tulisan ini bisa menjadi renungan bagi mantan siswa ataupun siswi yang sedang mengejar gelar dan ilmu. Terutama dari PKBM Sahabat Insani Yayasan Dulur Salembur.
Sekian artikel yang mewakili harapan saya untuk kalian, semoga kalian dapat terus melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan menggapai cita-cita.
By.
Dep. Publishing