Ngaji dan Ngaji diri dari Tokoh Punakawan


Ini hanya cerita masa lalu, bahkan dari keluarga, saya termasuk sedikit berbeda, (bukan dalam artian negative loh… ), sebenarnya saya lebih cenderung penyendiri, sejak kecil saya lebih senang mendengarkan dongeng atau wayang di radio daripada harus main bersama teman-teman sebaya, alhasil sudah bisa di tebak kalo saya sedikit teman. Dan anehnya kebiasaan inipun berlanjut sampai ketingkat SMP, SMA bahkan kuliah.
Disaat orang lain menyenangi hiburan, jalan-jalan atau nonton bareng entah kenapa saya lebih menyukai kesendirian, bahkan tidak jarang saya selalu berada di kamar hanya mendengarkan dongeng,wayang membaca komik (kenal komik sejak SMP ) atau maen komputer setelah masuk kuliah. Kalo menurut bahasa komik jepang saya termasuk “hikikomori” artinya orang yang mengurung diri atau menarik diri dari keramaian.

Kata pengantar atau profil dari penulis sampai sini ja dulu,(^_^), saat ini saya mau meceritakan pengalaman saat saya nonton bareng, bukan nonton di bioskop loh, karena sampai saat ini baru 2 kali nonton bareng di bioskop yaitu saat kuliah dan tahun-tahun baru ini bersama kawan-kawan di Jakarta. Bukan pula mau menceritakan pengalaman nonton bola atau nonton dangdutan karena terus terang ja saya belum pernah (kalo kata teman-teman gak gaul…), tapi yang saya mau bahas adalah waktu SMA dulu saat nonton wayang golek saat itu dibawakan oleh dalang Asep Sunandar Sunarya (alm), dimulainya jam 12 malam sampai jam 3 pagi, padahal jam 4.30 harus bangun untuk ngaji di pesantren dan jam 7 pagi harus sekolah ( sebenarnya udah bisa di tebak, saat di sekolah tiduuurrr… ^_^ )

Jreeng.. jreeng..jreeng.. duunnng.. tak dung..dung.. (suara music pengantar wayang mulai berbunyi) saat itu ki dalang asep sunandar sunarya melakonkan tentang tokoh punakawan terutama sanghiyang ismaya ( semar ) yang berada di negri astina yang di rajai oleh prabu abiyasa. (aaahh.. nostalgia banget kalo inget masa lalu…  ) nah sampai sini ja cerita wayangnya.
Yang mau diceritakan bukan tentang isi cerita wayang tersebut, melainkan yang ingin di bahas adalah tokoh-tokoh punakawan. Kalo diambil dari bahasa dalang ialah “hidup itu harus bisa ngaji dan ngaji diri”,

Punakawan terdiri dari empat tokoh denga berbagai karakter yang unik di dalamnya.
Ada Semar, Petruk, Nala Gareng dan juga Bagong. Menilik karakter yang ada, Semar adalah si bijak yang kaya ilmu dan memiliki sumbangsih yang besar pada ndoro-ndoronya lewat petuah-petuah yang disampaikan, meski kadang dengan gaya bercanda. Sementara itu, Gareng adalah tokoh yang tidak cakap dalam berkata-kata walau sebenarnya memiliki pemikiran-pemikiran luar biasa, cerdik dan pandai.

Alhasil Gareng lebih sering menjadi tokoh dibalik layar dengan ide-idenya yang dijalankan oleh orang lain. Tokoh lain, Petruk, memiliki watak sebagai tokoh yang tidak punya kelebihan apa-apa selain banyak omong. Sedangkan si Bagong, dia ini lebih pada bayang-bayang Semar, cerdas dalam menyampaikan kritik-kritik lewat humor yang dilontarkan, mungkin dapat disamakan dengan tokoh abu nawas atau Nasrudin dalam kisah-kisah humor sufi.

Nah, jikalau Sunan Kalijaga menciptakan tokoh punakawan sebagai salah satu upaya beliau untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, maka saya mempergunakan hakikat yang tersirat di dalamnya dalam menjalankan aktivitas. Bagaimana itu bisa terlaksana? Sederhana.

Semar berasal dari kata Arab simaar atau ismarun yang artinya paku. Paku adalah alat untuk menancapkan suatu barang, agar tegak, kuat dan tidak goyah. Semar juga memiliki nama lain, yaitu Ismaya, yang berasal dari kata asma-Ku atau simbol kemantapan dan keteguhan. Karena itu usaha yang dilakukan harus didasari keyakinan yang kuat agar usaha tersebut tertancap sampai mengakar.

Salah satu rekan saya pernah bilang bahwa jika kita ingin menjalankan usaha, maka perlu orang yang punya banya teman dan bisa jualan. Jika penjualan berjalan dengan lancar, maka roda usaha pun bisa berputar. Nah, disinilah tokoh punakawan yang lain, Nala Gareng, bertindak. Nala Gareng sejatinya berasal dari kata naala qorin yang artinya memperoleh banyak kawan… memperluas sahabat. Bahasa ndeso-nya, networking. Tidak jarang, pekerjaan datang dari kawan tanpa pernah diduga-duga.
Bagaimana dengan Petruk dan Bagong?

Petruk diadaptasi dari kata fatruk yang artinya tinggalkan yang jelek. Selain itu, Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong artinya kantong yang berlobang. Maknanya bahwa setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Yang Maha Kuasa secara ikhlas, tanpa pamrih dan ikhlas, seperti bolongnya kantong yang tanpa penghalang. Sejalan dengan orang berusaha, sikap kemantapan dan keteguhan yang tanpa pamrih dan ikhlas niscaya akan memberikan hasil yang terbaik. Sayangnya, banyak orang yang mengartikan terbaik itu adalah mendapatkan atau memperoleh sesuatu, padahal tidak selalu begitu.

Tokoh yang terakhir, Bagong, berasal dari kata bagho yang artinya pertimbangan makna dan rasa, antara yang baik dan buruk, benar salah. Dalam versi lain kata Bagong berasal dari Baqa’ yang berarti kekal atau langgeng. Bagi saya, ini sama halnya dengan sikap instropeksi yang kita lakukan dalam kehidupan kita secara terus-menerus, kalo dalam ayatnya adalah hasibu anfusakum qobla an tuhasabu….

Inti dari kutipan di atas adalah dalam kehidupan ini kita harus punya punakawan baik dalam kehidupan sehari-hari atau dalam berusaha. Seperti halnya semar yang akan memaku tujuan kita agar tetap kokoh berdiri, nala gareng yang akan menjadi networking /teman, begitu juga petruk dan bagong yang bisa diartikan lebih luas lagi…

Sekian artikel kali ini semoga bermanfaat…. 